Sebuah Kisah Tentang Seorang Anak Perempuan Yang Sangat Kuat
*Cerita ini merupakan kisah nyata pengalaman hidup seseorang yang saya kenal baik.
Saat itu, ada seorang anak perempuan. Umurnya masih sekitar 4-5 tahun. DIa terlahir di keluarga menengah ke bawah, tidak berkecukupan, tidak juga, berkecukupan juga tidak. Ayahnya bekerja di salah satu badan pemerintah. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang juga adalah seorang guru taman kanak-kanak. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki, tapi sayang, kakaknya itu cacat mental. Hal tersebut membuat kedua orang tuanya lebih memperhatikan kakaknya. Ia mempunyai dua adik perempuan yang masih kecil. Sejak kecil, ia sudah mandiri. Bahkan ia harus menggantikan pekerjaan ibunya, menyapu, mengepel, menjaga adik-adiknya termasuk kakaknya, dan hal terebut ia lakukan dengan tulus. Beberapa tahun lamanya ia jalani kehidupannya seperti itu. Akhirnya, adik laki-lakinya lahir. Hal itu menambah berat pekerjaannya. Ia harus sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan lain sebagainya. Keluarganya menganut agama yang mayoritas di lingkungannya. Tapi, dari TK, dia sudah masuk sekolah Kristen. Semasa SD, dia sangat disayang oleh suster di sekolahnya karena kemampuannya dalam melukis. Dia sering menabung untuk membeli cat minyak yang sangat mahal. Ia melukis dan berkeksperimen di sela-sela waktunya yang sangat padat. Suatu hari, sekolahnya akan mengirim dia ke Belanda untuk mengikuti lomba lukis. Tapi ibunya tidak setuju karena ibunya khawatir padanya. Akhirnya, ia melewatkan kesempatan tersebut.
Suatu hari, rumahnya diguncang gempa dan roboh. Harta keluarga ludes semua. Akhirnya keluarganya pindah ke rumah kakak dari ibunya. Masalah bertambah saat sang ayah, yang orangnya sangat kaku dan jujur, menolak saat dipaksa korupsi oleh teman-teman di kantornya. Akhirnya sang ayah malah dijatuhkan dan hal tersebut semakin memperburuk perekonomian keluarga itu. Anak tadi tetap tekun dan ulet melakukan pekerjaan yang harus ia kerjakan. Tanpa mengeluh, ia terus berusaha. Karena didikan dari sekolahnya, ia sudah percaya pada Tuhan Yesus. Ia berdoa dan selalu percaya bahwa Tuhan akan menolong. Ia semakin kuat dan mandiri. Dia mencari SMP dan SMA sendiri, tanpa ada yang membimbingnya. Akhirnya, dengan usaha keras, keluarganya bisa membeli sebuah rumah dan merekapun menetap di sana.
Saat lulus SMA, dia meneruskan sekolahnya dan mendapat D3nya. Ayahnya memaksanya berhenti dan tidak usah melanjutkan sekolah. Ia harus membantu ayahnya untuk mencari uang. Tapi, tekad yang ada dalam hatinya tidak padam, ia ingin sekolah, ia ingin meraih sarjana. Ayahnya tidak mau membiayainya untuk melanjutkan sekolah untuk meraih S1 karena biaya yang ada sudah digunakan untuk membelikan piano adik perempuannya. Adik perempuannya dulunya lahir dengan sulit. Karena itu kedua orang tuanya sangat memanjakannya. Saat adiknya itu memutuskan untuk masuk ke Institut Musik terkemuka, ia butuh sebuah piano. Akhirnya biaya yang ada digunakan untuk membeli piano itu. Anak tadi tidak menyerah. Ia bekerja sambil sekolah. Ia membiayai sendiri sekolahnya dan bertekad akan lulus cepat sehingga bisa segera mendapat pekerjaan. Untuk membiayai sekolahnya, ia bekerja serabutan, menjual jeans, baju bekas, dan lain-lain. Kebetulan, ia mempunyai seorang pacar yang juga membantunya dalam usahanya itu.
Akhirnya, dalam waktu singkat ia dapat menyelesaikan skripsinya dan mendapat gelar Sarjana Ekonomi. Saat kedua orang tuanya menghadiri wisuda, mereka menangis. Mereka tidak membiayai sekolah putrinya itu tapi putrinya itu dapat meraih gelar sarjana. Sang adik perempuan, sampai saat ini tidak mempunyai gelar, karena ia tidak lulus ujian dan akhirnya menyerah. Setelah lulus, ia mencari pekerjaan. Tidak mudah ia menemukan pekerjaan, akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan computer milik seorang TiongHoa. Ia sangat bersyukur. Beberapa tahun kemudian, akhirnya ia menikah dengan pacarnya yang setia membantunya itu. Pernikahan mereka juga tidak mudah, banyak sekali masalah.
Sang pemuda, kekasih anak tadi sebenarnya berasal dari sebuah keluarga yang berkecukupan. Tapi, sang ibu tidak suka jika menantunya itu miskin. Jadi ibunya dengan berat hati merestui pernikahan putra keduanya tersebut. Lalu, keluarga dari pemuda itu sebenarnya beragama mayoritas di lingkungannya, tapi sejak SD, anak-anaknya telah disekolahkan di sekolah Kristen, sehingga sang pemuda tadi juga percaya pada Yesus Kristus. Karena faktor-faktor tersebut, pernikahan pemuda itu dengan anak tadi tidak mudah. Tapi Tuhan membantu mereka. Banyak orang dari lingkungan yang membantu mempersiapkan pernikahan mereka disebuah gereja Katolik di lingkungan itu.
Setelah menikah, mereka tinggal di rumah orang tua pemuda itu yang ada di Jogja, sedangkan kedua orang tua pemuda itu kembali lagi ke Pemalang. DI rumah itu ada dua seorang kakak pemuda itu dan 2 orang adiknya. Sebulan setelah menikah, ternyata anak tadi hamil. Mendengar kabar itu, sang ibu mertua sangat tidak senang. Ia berpikir, bahwa ia terlalu muda untuk mempunyai seorang cucu. Saat hamil, ia diperlakukan seperti pembantu di rumah itu. Ia membersihkan rumah, mengepel, memasak, dan masakan yang ia buat dan ia beli dengan uangnya yang didapat dari bekerja itu selalu habis oleh ketiga saudara suaminya. Karena hal tersebut, ibunya setiap pagi mengirim makanan. Itu saja masih diganggu oleh 3 saudara suaminya itu. Padahal orang hamil butuh gizi untuk bayinya juga. Begitulah kehidupannya, tidak menyenangkan sama sekali. Satu-satunya hal yang menyenangkan bagi dirinya adalah bahwa ia dapat memuji dan memuliakan Kristus sebagai Tuhannya.
Di bulan September, saat usia kandungannya memasuki 7 bulan, ayah mertuanya meninggal. Jenazahnya dibawa ke Jogja. Saat upacara-upacara untuk mendoakan ayah mertuanya itu, ia selalu diperlakukan sebagai pembantu oleh ibu mertua dan saudara-saudara suaminya itu. Bahkan ia disuruh tidur di tikar. Ia menahan betapa tersiksanya dirinya. Fisik maupun mental. Ia tidak mengeluh sama sekali. Ia hanya dapat percaya Tuhan akan membantunya. Bahkan, saat sedang acara, ibu mertuanya itu hanya memperkenalkan calon-calon menantunya, seperti kekasih sang kakak sulung yang seorang anak hakim, lalu kekasih sang adik yang seorang anak kepala bagian pertanahan. Dia, yang bahkan menantunya, tidak digubris sama sekali. Sakit sekali hatinya, tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Di bulan Desember, akhirnya anak perempuannya lahir. Ibu mertua tidak mau menjenguk dengan alasan takut jika anak yang dilahirkan itu ternyata cacat seperti pakdenya. Beberapa hari setelah itu, sang ibu mertua baru mau menjenguk setelah dikabari bahwa cucunya itu tidak cacat, hanya saja lehernya tidak bisa menoleh karena kelahiran yang sulit. Bayi itu dirawat oleh ibu dari anak perempuan itu. Saat sang bayi berumur 3 bulan, saat sedang lucu-lucunya dan sangat menggemaskan, sang ibu mertua mulai menyukai cucunya itu. Ia sering mengambil cucunya itu dari rumah besannya tanpa ijin pada anak perempuan itu. Suatu hari, anak perempuan itu pulang lebih pagi dari bekerja dan tidak sengaja bertemu ibu mertuanya bersama salah seorang adik suaminya membawa bayinya dengan motor. Dia sangat marah dan memaksa suaminya mengambil bayinya saat itu juga. Kesabarannya seakan sudah habis, tapi dia tetap ingat akan Tuhan dan tidak menuntut apa-apa selain bayinya kembali ke pangkuannya.
( bersambung... )


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda